Media Digital Hipnotis Mahasiswa Milenial Tahun 2000, Wartawan Angkatan 1990, Eksotika Jurnalistik Telah Terbenam
PALEMBANG, HARIANBERITA.ID - Memasuki era milenial tahun 2000-an, media digital membawa kaula muda para mahasiswa, telah melupakan marwah keindahan penulisan jurnalistik.
Dengan adanya media digitalisasi yang telah merambah ke para mahasiswa, sehingga para wartawan generasi tahun 1990-an merasa dunia media yang di perjuangkan (khitah) sebagian besar atmosfer keindahan jurnalistiknya telah hilang dan terbenam.
Hal itu diungkapkan Amir Machmud NS, dosen Fiskom Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), yang dilansir di media cetak dan online EXTRANEWS, katagori kanal homepage/nasional dengan opini bertajuk,"Khitah Eksotika Jurnalistik dan Basis Kebinekaan," pada Senin, (4/6/2023).
Perbedaan secara signifikan yang dituangkan mahasiswa generasi milenial tahun 2000-an dengan wartawan generasi tahun 1990-an.
Menurut Amir Machmud NS, analisis dan kajian ditemuinya secara realitas dengan respon yang berbeda, ketika Ia menyampaiakan perkuliahan jurnalistik dan menjadi narasumber pada beberapa forum yang di ikuti wartawan angkatan tahun 1990-an.
Menelisik dari para mahasiswa melenial 2000-an diperoleh kesan dan pemahaman produk teks jurnalistik identik dengan biasa yang di akses sekarang ini, dengan mengutamakan secara riingkas, to the point, eye catching, berpijak pada kata kunci dan search engine optimazion (SEO).
"Ketika mereka ditanya tentang idolatrika wartawan-wartawan unggul, rata-rata mereka selalu menyatakan lebih mengenal presenter televisi seperti Najwa Shihab, Aiman Witjaksono, Andy Noya, atau Karni Ilyas. Sehingga disini tidak ada eksotika meninggalkan jejak kesan yang mendalam," kata dosen Fiskom UKSW dan sebagai wartawan di suarabaru.id, serta sekaligus menduduki Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah.
Dalam kajian yang disampaikan Amir Machmud NS, dirinya juga secara bijak mengutarakan suatu perbedaan dengan melalui suatu kajian yang mendalam secara realistis.
Ia menuturkan, mengenai para mahasiswa milenial tahun 2000-an tersebut dimungkinkan belum sempat mereka mengenal dengan para wartawan yang melahirkan karya-karya elok merak ati seperti, Gunawan Mohamad, Leila S Chudori, Sumohadi Marsis, Budy Shambazy, Hendry Ch Bangun, atau Triyanto Triwikromo.
Namun sebaliknya, ketika respon yang didapat dan di peroleh ketika dirinya menyampaikan materi dihadapan para wartawan generasi tahun 1990-an yang didengar sangat memperihatinkan.
"Dikatakan mereka, dunia media kita telah kehilangan sebagian besar atmosfer jurnalistik dengan teks-teks unggulan yang berbasis jurnalisme sastrawi, sehingga mengalirkan suatu eksotika jurnalistik yang memikat sebagai magnet," ucapnya.
Lanjutnya, pada saat ini pragmatisme gaya penulisan yang disajikan media digital dalam portal-portal berita, se-akan membenamkan kepeduliannya pada keindahan teks jurnalistik yang dahulu kiprahnya menjadi salah satu kekuatan pemikat.
Sedangkan yang sekarang, dirinya menilai secara realitas rata rata gaya penulisan bernuansa kelugasan informasi, sehingga simbol tersebut sebagai ungkapan yang mewakili perasaan dengan ala simbol emoticon (emoji).
Disisi lain, di era kecepatan kebutuhan akses informasi dalam menulis dan memotret suasana, Ia katakan juga tidak lagi menjadi suatu passion, karena dipandang tidak menjadi efektif dan kenyataan semua penggambaran fakta dan moment sudah terwakili oleh platform audiovisual yang sudah ada.
"Tidak sedikit yang mengungkapkan harapan dalam keprihatinan, mereka hampir semua menyatakan akan ada suatu harapan, dimana masa tersebut kembali ke khitah jurnalistik yang indah," tuturnya.
Lebih jauh dikatakan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah, dalam pendalaman analisis yang dilakukanya, bahwa eksotika juga berkaitan dengan ekspresi politik pemberitaan media yang idealnya membutuhkan suatu keseimbangan dalam penyajian, berdasarkan kepatuhan pada Kode Etik Jurnalistik.
"Ketika wartawan dan media punya kehendak untuk menjaga etika jurnalistik, itu merupakan bagian dari pancaran eksotika, sehingga tampilan tersebut akan dapat dirasakan. Namun sebaliknya, eksotika jurnalistik akan makin terbenam manakala transformasi etika didalam praktik bermedia itu diabaikan," tuturnya
Sementara itu dosen Fiskom UKSW mengakui, sebelum membahas persoalan ke materi basis bisnis.
Amir Machmud NS menjelaskan, bahwa kehidupan media sekarang dalam rasionalitas, praktisi jurnalistik diwarnai basis basis rasionalis yang berkembang sebagai campuran rasa, hati, kehendak bersama, strategi rezim untuk mempertahan kekuasaan, serta realitas wartawan dan media sebagai entitas bisnis.
Diuraikan secara gamblang dalam tajuk yang disajikannya, ada empat basis yang mengiringi perjalanan media salah satunya, pertama basis kebinekaan yaitu media tersebut seharusnya menjadi refleksi dari sunnatullah tentang kebinekaan dan dari sananya telah melekat sebagai hati dan rasa di kehidupan bangsa.
Ke-dua, basis kebangsaan, yaitu media kita yang telah mengarungi pengalaman berbagai periode kebangsaan, mulai dari perjuangan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, era demokrasi terpimpin orde lama, era orde baru, hingga era demokratis mencapai partisipatif reformasi.
Lalu ke-tiga, basis kemerdekaan Pers. Periode ini merupakan suatu produk transisi perundang-undangan, dari UU 21/ 1982 ke UU 40/ 1999. UU Pers layak disebut sebagai karya agung reformasi, karena secara ekstrem membuka pintu kebebasan pers.
Kemudian ke- empat, dalam basis bisnis inilah periode ini merupakan suatu pengisian di era kemerdekaan pers, dengan revolusi teknologi informasi dalam bentuk new media menggunakan berbasis internet.
"Maka lahir lah akselerasi penyelenggaraan media yang bertarget pada pengakumulasian google adsense," terang Amir Machmud NS.
Masih hal yang sama, pemerhati kajian perjalanan para mahasiswa milenial tahun 2000-an, sehingga basis rasionalitas tersebut berlandaskan pada ideologi viralitas, yang tidak menyaring kebajikan-kebajikan nilai informasi sesuai pada fungsi media (UU Pers), dan mempertimbangkan aspek etika jurnalistik.
Kehilangan eksotika teks pun semakin diperkuat oleh pilihan isu yang lebih beraksen pengagungan ideologi viralitas. Pada sisi lain, tidak memedulikan kebajikan (fungsi pers) untuk memberikan informasi, memberi edukasi, memberi hiburan, dan menjalankan kontrol sosial yang benar.
"Semua dapat terlihat dalam kaidah dari sisi Kode Etik Jurnalistik, rambu-rambu pornografi, juga sensitivitas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) seakan-akan sudah tidak lagi dijadikan pengendali dan diniatkan konteknya menjadi penjaga bangsa," paparnya.
Ditambahkan wartawan suarabaru.id ini, yang menjadi pertanyaan dalam tulisan tajuk opini di media EXTRANEWS, dimanakah posisi eksotika yang menjadi bias dalan basis bisnis tersebut dan apakah hanya sekedar fenomena tren didalam khazanah budaya pop dan pada saatnya sejalan dan seiring saling menyusul dengan tren-tren secara siklistik.
"Untuk saya, jurnalistik adalah ruang untuk menyampaikan informasi. Setiap zaman punya cara dengan segala dukungan peranti, mungkin juga gaya untuk merespons tingkat penerimaan dengan karya-karya jurnalistik itu," terangnya.
Untuk pertanyaan lebih dalam disampaikan Amir Machmud, apakah kita dapat menerima adanya suatu kehilangan atau pemudaran (lambat laun sirna) ke indahan jurnaistik diperparah oleh pengabaian etika.
"Tentu tidak. Jurnalistik sesuai khitah dan sejarahnya sebagai penyampaian kabar melalui tulisan. Pemaknaan teks yang berkembang dalam formulasi infografis, audio, dan audiovisual dengan aneka berbagai platform penopang new media, tetap memosisikan teks sebagai suatu pembahasaan pesan yang utama," ungkapnya.
Dipinta Amir Machmud NS, perlu digaungkan atau digadangkan sikap khitah eksotika jurnalistik dengan cara mengembangkan spirit praktis, sehingga keindahan narasi suatu tulisan akan mengikuti tuntutan ideologi viralitas," tandasnya.
(Sayid Iskandarsyah)