Menikmati Alam di Perkampungan Baduy

Menikmati Alam di Perkampungan Baduy
Suasana jalan menuju perkampungan Baduy Luar yang ada di Lebak, Banten
Menikmati Alam di Perkampungan Baduy
Menikmati Alam di Perkampungan Baduy
Menikmati Alam di Perkampungan Baduy

Baduy, HarianBerita.ID - MENYELUSURI wisata budaya di Kabupaten Lebak Banten sangatlah menarik. Seperti halnya bila berkunjung ke Suku Baduy yang ada di Kabupaten Lebak.

Kampung Wisata suku Baduy yang terletak di Desa Cibeo, Kabupaten Lebak banyak di kunjungi wisatawan yang ingin mengetahui keunikan suku Baduy.

Berbicara mengenai suku Baduy, suku tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar.

Suku Baduy Dalam merupakan suku yang masih sangat primordial, mereka menghindari penetrasi dengan budaya modern. Ciri khas ini mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna putih.

Sementara itu, masyarakat Suku Baduy luar yang sudah mengenal kehidupan modern, ciri khasnya menggunakan pakaian berwarna hitam dan ikat kepala berwarna biru. Kedua suku ini tetap berpegang teguh untuk tidak menggunakan alas kaki.

Masyarakat Suku Baduy ini hidup dengan filosofinya sendiri, sehingga orang yang mengunjungi Suku Baduy ini harus menghormati dan menghargai peraturan adat yang ada.

Daerah Baduy Dalam masih lebih alami dan asri, dibandingkan dengan daerah Baduy Luar. Meskipun begitu, pastinya yang berkunjung tetap dapat menikmati pemandangan dan suasana yang unik di perkampungan Baduy tersebut.

Dalam kesempatan ini, HarianBerita.id, Sabtu (24/06) lalu, berkesempatan melihat dari dekat suku Baduy Luar, yang berada di Desa Cibeo.

Akses masuk dari jalan raya menuju lokasi memang tidak terlalu jauh, namun infrastruktur jalan yang ada tidak begitu bagus, jalan berbatuan dan naik turun harus ditepuh wisatawan untuk bisa melihat dari dekat keberadaan suku Baduy tersebut. 

Setelah tiba di lokasi, pastinya pengunjung akan menemukan tempat parkir kendaraan yang memang sudah disiapkan, dengan warung-warung yang ada sebagai tempat istirahat pengunjung, sebelum masuk ke perkampungan suku Baduy Luar, maupun Dalam.

Berjalan ke dalam perkampungan tersebut, pengujung harus menyeberangi sungai kecil dengan menggunakan jembatan bambu. Setelah melewati jembatan bambu tersebut, maka terlihat petunjuk Pos 2, terdapat tulisan "Selamat Datang di Kawasan Baduy Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak".

Di papan petunjuk tersebut pengunjung juga mendapatkan informasi pentunjuk arah, bila ke arah kanan maka pengunjung akan menuju Desa Cikeusik dan ke arah kiri menuju Desa Cibeo.

Ditempuh Berjalan Kaki

Menuju pemukiman Baduy Luar  yang ada di Desa Cibeo tepatnya di komplek Cisadane ini, memang harus ditempuh dengan berjalan kaki, dengan kondisi jalan yang dilalui menanjak, seperti jalan setapak, pengunjung pastinya berjalan dengan menginjak batu-batuan besar, pastinya harus berhati-hati, apalagi saat musin hujan.

Setelah berjalan sejauh kurang lebih 500 meter, maka akan terlihat perkampungan dengan rumah adat suku Baduy dengan istilah Julang Ngapak.

Bangunan rumah tersebut, seperti rumah panggung, yang terbuat dari bambu di topang dengan kayu, menggunakan atap dari daun kelapa yang telah dikeringkan. 

Rumah adat Sulah Nyanda ini biasanya dibagi menjadi tiga ruangan yaitu bagian sosoro (depan), tepas (tengah) dan ipah (belakang). Masing-masing ruangan berfungsi sesuai dengan kebutuhan.

Dilingkungan Komplek Cisadane ini terdapat sebanyak 80 rumah, yang jaraknya berdekatan, terlihat aktifitas warga masyarakat suku Baduy Luar dengan kesibukannya masing-masing. 

Ada masyarakat yang sedang memasak, dengan menggunakan kayu bakar, ada pula yang sedang menumbuk padi, ada juga yang sedang merajut kain ikat kepala, bahkan anak-anak mereka bermain di sekitar rumah.

Saat HarianBerita.id bertemu dengan  Sutari, yang biasa di panggil “Uyut”, yang juga sebagai penghubung wisatawan ke masyarakat Baduy Dalam maupun Luar, menjelaskan, masyarakat yang ada di komplek ini tidak menggunakan listrik sebagai penerangan.

Begitu pula untuk kehidupan sehari-hari, mereka ini minum dan makan tidak mengunakan gelas maupun piring yang tersebut dari kaca.

"Untuk penerangan rumah, Masyarakat di Baduy ini hanya menggunakan lampu dengan minyak kelapa, begitu pula dengan untuk minum menggunakan bambu dan  makan menggunakan daun,” ujar Uyut yang setiap harinya melayani pengunjung yang ingin keperkampungan Baduy.

Uyut menyebutkan, ini merupakan adat dari masyarakat Baduy yang masih kental dan sangat di junjung tinggi, makanya mereka dari mulai makan menggunakan daun, begitu pula dengan lampu dan untuk kebutuhan makan, hasil pertanian padi mereka harus menumbuknya sendiri, jelas Uyut.

Uyut juga mengatakan khusus untuk kawasan Cibeo dan pemukiman Suku Baduy di Cisanade, setiap harinya dikunjungi wisatawan, bahkan bisa mencapai 50 orang perharinya. Apalagi saat hari libur, seperti hari Sabtu  dan Minggu bisanya pengunjung bisa mencapai 200 hingga 300 pengunjung.

Wisatawan yang berkunjung ke Baduy ini bisa menginap di rumah warga Baduy, mereka tidak perlu membayar, cukup membawa kebutuhan makanan atau membantu membeli makanan yang akan dimasak untuk makan bersama. 

Kehidupan malam disini terlihat unik dengan lampu-lampu yang meneranginya, biasa suku Baduy ini mereka tidur pukul 22.00 Wib dan pukul 05.00 Wib sudah bangun untuk memulai beraktifitas kembali.

Uyut juga menyebut, warga Baduy
setiap harinya mereka ke kebun, mengambil kayu bakar serta aktifitas lainnya.

"Bagi masyarakat Baduy sendiri, pastinya merasa senang banyaknya wisatawan yang berkunjung kedesannya, karena terlihat di Kampung ini menjadi ramai," tambah Uyut. | Arman/Vn